Divisi Audit Gaib

Dinner Hutang Dosa

Bab 1·2021 kata·10 menit baca

Raka Wijaya tahu ia tidak seharusnya berada di meja ini. Buktinya ada tiga: pertama, sepatu pantofelnya satu-satunya yang tidak mengkilap. Kedua, piring di depannya punya tiga garpu, dan ia baru tahu garpu paling kecil bukan untuk estetika—itu untuk hidangan pembuka yang tidak pernah ia pesan. Ketiga, semua orang di meja ini sudah memutuskan siapa dirinya sebelum ia duduk, dan tidak ada satu pun dari mereka yang salah.

“Jadi,” kata Hendra Maheswari dari ujung meja, suaranya penuh keramahan yang dipelajari dari tahun-tahun negosiasi di ruang rapat, “kamu bilang sedang mencari pekerjaan?” Bukan pertanyaan. Hendra sudah tahu jawabannya. Ia hanya ingin Raka mengatakannya sendiri di depan semua orang.

“Iya, Om. Masih proses.”

“Proses.” Hendra mengulang kata itu seolah mencicipinya. “Proses yang sudah berjalan—berapa lama? Setahun? Dua tahun?” Dua tahun tiga bulan, tetapi Raka tidak mengoreksi.

Di sebelah kirinya, Kirana diam saja. Tunangannya—mantan tunangannya, mungkin sebentar lagi—duduk dengan punggung tegak sempurna, pandangan lurus ke piring. Ia tidak membantah, tidak menambahkan, tidak melindungi. Kirana bukan tipe yang memberontak di meja makan. Ia adalah tipe yang diam dan berharap semuanya selesai dengan sendirinya. Ibunya, Nyonya Maheswari, tersenyum tipis di seberang meja. Senyum yang tidak pernah mencapai mata.

“Maksud Papa bukan begitu, Raka.” Kirana akhirnya bicara, tetapi suaranya datar seperti membacakan skrip. “Papa cuma khawatir.”

Tentu. Khawatir. Khawatir anaknya menikah dengan laki-laki yang gajinya tidak cukup untuk membayar sewa apartemen di selatan Jakarta. Khawatir anaknya harus hidup seperti—maaf—orang biasa.

Raka menarik napas. Ia sudah berlatih di kamar kos semalaman: jawaban sopan, senyum tulus, janji akan segera dapat kerja tetap. Ia sudah menghafal naskahnya. Tapi di meja ini, di bawah lampu gantung kristal yang harganya mungkin setara dengan SPP satu semester kuliahnya, naskah itu terasa palsu.

“Saya sedang mengurus beberapa peluang, Om. Mungkin dalam beberapa bulan ke depan—”

“Beberapa bulan.” Hendra menyela dengan nada yang masih ramah, tetapi ujung-ujungnya sudah tajam. “Kamu tahu, Raka, anak-anakku—calon istrimu—dibesarkan dengan standar tertentu. Bukan masalah materi. Tapi stabilitas.” Dia bilang bukan masalah materi. Tapi yang dia maksud persis itu.

Tawa kecil dari arah kiri meja. Sepupu Kirana, laki-laki seusia Raka dengan jam tangan yang lebih mahal dari motor Raka. Tidak perlu namanya. Raka bahkan tidak peduli.

“Maaf, Mas Raka,” kata sepupu itu dengan nada tidak menyesal sama sekali, “lulusan mana? Saya penasaran aja.” UI, Manajemen. IPK 3,4. Organisasi cukup. Magang di perusahaan logistik ternama. Raka lulus dengan nilai yang seharusnya cukup untuk membuka pintu di mana saja. Tapi pintu-pintu itu ternyata membutuhkan lebih dari sekadar ijazah. Mereka membutuhkan nama, koneksi, atau—dalam kasus Maheswari—mahar yang tidak pernah ia miliki.

“UI,” jawab Raka pendek.

“UI? Bukannya alumni UI gampang cari kerja?” Hendra mengangkat gelasnya sedikit, memberi isyarat pada pelayan untuk menambah. “Jangan begitu, Nak. Zaman sekarang sulit. Bukan semua orang bisa langsung dapet posisi yang layak.” Dia berkata posisi yang layak dengan cara yang membuat kata itu terdengar seperti diagnosis medis.

Raka seharusnya menjawab dengan sopan. Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri: jangan rusak malam ini. Kirana sudah memintanya—memicunya—untuk bersikap baik. Di kos tadi malam, sepulang kerja lembur yang tidak dibayar, ia sempat memegang foto ayahnya di nakas. Satu-satunya foto yang tersisa: ayah memegang map cokelat, berpakaian rapi, wajahnya setengah tertutup bayangan. Raka tidak tahu persis apa pekerjaan ayahnya dulu. Ibu hanya bilang "urusan logistik." Tapi setelah ayah menghilang sepuluh tahun lalu, tetangga bilang lain: bapakmu punya utang sama orang. Raka tidak pernah percaya. Sekarang, ia mulai bertanya-tanya.

“Iya, Om. Saya usahakan yang terbaik.” Tidak ada yang peduli.

Sejak kecil, Raka punya kebiasaan yang tidak pernah ia ceritakan ke siapa pun: kadang-kadang ia melihat hal-hal yang tidak seharusnya ada. Bayangan di sudut kamar yang bergerak tanpa sumber cahaya. Suara bisik-bisik di rumah kosong tetangga. Angka-angka yang muncul sekilas di atas kepala orang—seperti label yang tidak bisa ia baca. Ia selalu menganggapnya imajinasi, kelelahan, atau kebiasaan anak kecil yang tidak mau hilang. Ibu membawanya ke dukun, ke psikolog, ke kiai. Semua bilang: tidak apa-apa. Hanya terlalu sensitif. Tapi ia tidak pernah bilang pada mereka bahwa angka-angka itu kadang membuatnya takut.

Sekarang, di meja makan ini, untuk pertama kalinya dalam bertahun-tahun, ia melihat sesuatu lagi. Dan kali ini ia bisa membacanya.

Pelayan membawa hidangan utama. Percakapan bergeser ke bisnis, properti, rencana liburan keluarga di Eropa, dan sekolah anak-anak yang lebih mahal dari kos Raka setahun. Raka diam. Ia memotong steak-nya dengan patuh, mengunyah perlahan, dan menunggu malam ini selesai.

Lalu ia melihat sesuatu yang seharusnya tidak ada di meja ini. Bukan sesuatu. Seseorang. Atau—bukan orang.

Di belakang Hendra, tepat di atas kursinya, melayang lembaran-lembaran buku berwarna hitam pekat. Halaman-halamannya terbuka dengan sendirinya, seperti ditiup angin dari dimensi lain. Tinta merah membentuk baris-baris aksara yang tidak pernah ia pelajari, tetapi anehnya, ia bisa membaca setiap katanya.

Tiga nyawa anak sulung. Jatuh tempo: malam Jumat Kliwon. Denda keterlambatan: 47%. Agunan belum lunas.

Raka berkedip. Lembaran itu tidak hilang. Leher Hendra—pria yang duduk tenang dengan senyum ramah di ujung meja—dilingkari rantai hitam. Salah satu ujung rantai itu menjuntai ke bawah, melewati jas mahalnya, dan menghilang ke dalam lantai. Tidak mungkin. Raka menggeser pandangannya ke Nyonya Maheswari. Rantai serupa, tetapi lebih tipis, melingkar di pergelangan tangannya, menyatu dengan gelang emas yang ia kenakan.

Kirana. Raka menoleh ke tunangannya. Tidak ada rantai. Tetapi di atas bahu Kirana, sebuah prasasti kecil mengapung, menuliskan nama yang sama dengan yang tertera di buku hitam itu. Di samping namanya, sebuah tulisan kecil: Agunan cadangan.

Dunia Raka berputar lebih lambat. Darah di telinganya berdesau. Suara-suara di meja terasa jauh, seperti sedang berteriak dari dasar kolam. Garpu di tangannya terasa dingin, dan untuk sesaat ia lupa bahwa ia sedang memegangnya.

“Raka?” Suara Kirana. Samar. “Raka, kamu kenapa?” Wajahmu pucat sekali, mungkin mau dia tambahkan, tetapi Raka tidak mendengar sisanya. Pandangannya masih terpaku pada buku hitam yang melayang itu.

Tiga nyawa anak sulung. Berapa anak Hendra Maheswari? Kirana anak pertama. Ada adik laki-laki—masih SMP. Dua anak. Dan Hendra dari pernikahan pertama sebelum ini? Rumor bilang ada. Tapi tidak ada yang pernah bicara soal itu di meja makan. Dan Kirana ada di daftar agunan cadangan.

“Raka!” Suara Hendra. Tajam. Kehilangan keramahannya. “Kamu dengar saya bicara?”

Raka menoleh. Enam pasang mata menatapnya. Kirana khawatir. Hendra mulai kesal. Nyonya Maheswari masih tersenyum—senyum itu masih tidak menyentuh matanya.

“Maaf, Om,” suara Raka keluar lebih parau dari yang ia harapkan. “Saya... agak pusing. Mungkin karena—” Karena saya baru saja melihat buku hutang jin di belakang kepala Bapak. Ia tidak bisa mengatakan itu. Tapi ia juga tidak bisa duduk diam.

Raka meletakkan garpu. Tangannya sedikit gemetar. “Om Hendra.”

“Ya?”

“Om... ada sesuatu yang Om sembunyikan?”

Suasana meja membeku. Sepupu Kirana berhenti mengunyah. Kirana menatap Raka dengan mata membelalak. Nyonya Maheswari akhirnya kehilangan senyumnya. Hendra meletakkan pisau dan garpunya dengan pelan. Suara denting logam di piring porselen terdengar seperti tembakan di ruangan sunyi.

“Maaf?”

Raka seharusnya berhenti. Sadar di mana ia berada. Ingat janjinya pada Kirana. Tapi buku hitam di belakang Hendra masih melayang, dan rantai di leher pria itu semakin kencang, dan Raka bisa melihat tanggal jatuh temponya. Tiga hari lagi.

“Raka.” Suara Kirana berbisik, nyaris memohon. “Duduk.”

Tapi Raka sudah berdiri.

“Om, saya tidak tahu apa yang sedang terjadi di keluarga ini. Tapi kalau Om punya urusan dengan... sesuatu yang bukan dari dunia ini, tolong selesaikan sebelum—”

“Cukup.” Hendra berdiri. Wajahnya merah. Garpu di tangannya terangkat sedikit—bukan ancaman fisik, tetapi ancaman yang lebih dingin: kewibawaan seorang patriark yang tidak terbiasa ditantang di mejanya sendiri. “Saya tidak tahu apa yang kau bicarakan, dan saya sarankan kau duduk sebelum kau mempermalukan dirimu sendiri lebih jauh.”

Raka tidak duduk. Pandangannya masih pada rantai itu—sekarang semakin jelas. Hitam pekat. Dingin. Nyata. Buku di belakang Hendra menutup. Satu kalimat terakhir muncul sebelum halaman-halamannya lenyap: Penagih lama telah melihat.

Raka tersentak. Penagih lama? Penagih apa? Kata itu tidak masuk di kepala. Ia bahkan tidak tahu persis apa artinya dalam konteks ini. Tapi buku hitam itu menulisnya seperti sudah mengenalnya.

“Raka.” Kirana berdiri. Air matanya nyaris keluar. “Tolong. Jangan begini. Aku mohon.”

Raka menatapnya. Kirana yang selama dua tahun ini menjadi satu-satunya alasan ia bertahan dalam lamaran yang ia tahu tidak akan direstui. Kirana yang diam di meja ini, tetapi setidaknya tidak pernah meludahinya.

“Maaf, Kir. Aku... aku tidak bisa.” Suaranya serak. “Ada sesuatu yang salah dengan keluarga ini. Dan kau mungkin—” Ia berhenti. Tidak bisa melanjutkan.

“Aku minta tolong kau keluar dari rumahku.” Hendra. Dingin. Final.

Raka tidak menunggu perintah kedua. Ia meraih jaketnya—satu-satunya barang di meja ini yang benar-benar miliknya—dan berjalan ke pintu. Di belakangnya, Kirana menangis. Sepupu itu bersiul kecil. Nyonya Maheswari menyusun ulang garpu.

Hujan deras ketika Raka keluar. Jakarta Selatan di malam hari dingin, basah, dan penuh lampu-lampu mobil yang memantul di aspal. Raka berdiri di bawah kanopi pintu masuk, ponsel di tangan, dompet di saku dengan isi yang tidak cukup untuk taksi pulang ke Bekasi.

Ia baru saja menghancurkan satu-satunya hubungan baik yang tersisa di hidupnya. Untuk apa? Untuk halusinasi? Atau untuk sesuatu yang nyata?

Ia tidak punya waktu untuk menjawab. Karena ketika ia melangkah ke luar kanopi, siap untuk basah kuyup, seseorang sudah berdiri di sana. Perempuan. Usia sekitar tiga puluh. Jaket hitam polos tanpa atribut. Tidak basah meskipun hujan—atau mungkin ia sudah cukup lama di luar hingga jaketnya benar-benar tahan air. Atau mungkin hal lain.

“Raka Wijaya.” Bukan pertanyaan. Ia sudah tahu.

“Siapa Anda?”

Perempuan itu tidak menjawab. Ia menyodorkan kartu. Hitam. Stempel merah di sudutnya—bentuk yang mirip segel, bukan tanda tangan. Kartu itu tidak basah meskipun hujan. “Kamu lihat buku hitam di dalam,” katanya. Bukan pertanyaan. “Apa yang tertulis?”

Raka ragu. Tapi sesuatu dalam tatapan perempuan itu membuatnya menjawab. “Hutang. Tiga nyawa anak sulung. Jatuh tempo tiga hari lagi.”

Perempuan itu mengangguk pelan. Seperti konfirmasi yang sudah ia tunggu. “Berarti benar. Kamu bisa membaca pembukuan.”

“Apa ini?”

“Unit yang mendeteksi pembacaan sepertimu.” Perempuan itu menjeda. “Kami tidak punya nama resmi yang tercantum di direktori perusahaan. Tapi orang-orang di dalam memanggilnya Divisi Audit Gaib.”

Raka menatap kartu itu. Lalu ke wajah perempuan itu. Lalu ke kartu itu lagi. “Divisi apa?”

“Audit Gaib. Kami yang memeriksa kontrak—utang—antara manusia dan jin. Yang baru saja kau lihat di dalam.”

Raka ingin tertawa. Atau lari. Atau keduanya. “Maaf,” katanya, suaranya serak, “saya baru saja dihina setengah mati karena tidak punya kerjaan. Sekarang ibu datang—di tengah hujan—bilang saya diterima di... Divisi Audit Gaib? Memangnya saya ngelamar?”

Perempuan itu tidak tersenyum, tetapi sudut matanya berubah. “Kamu tidak melamar. Kemampuanmu terdeteksi.”

“Kemampuan apa? Saya cuma—”

“Kamu melihat buku hitam yang tidak bisa dilihat orang lain. Itu bukan halusinasi. Itu Hutang Dosa — kontrak warisan antara manusia dan jin. Biasanya kami menjemput orang sepertimu di rumah sakit jiwa.” Perempuan itu menjeda. “Tapi kamu masih berdiri di sini. Itu berarti kemampuanmu bisa dikelola.”

Raka membuka mulut, lalu menutupnya lagi. Ia memikirkan bayangan-bayangan di masa kecil. Angka-angka yang tidak bisa ia baca. Dan sekarang, buku hitam yang bisa ia baca dengan jelas. “Jadi... saya kerja di tempat yang ngurusin utang jin?”

“Kurang lebih.”

“Dengan gaji?”

Perempuan itu nyaris tersenyum. “Dengan gaji.”

Raka diam beberapa detik. Hujan terus turun. Di dalam, di balik pintu yang baru saja ia tinggalkan, ada Kirana yang menangis dan masa depan yang hancur. Di tangannya, ada kartu hitam dengan stempel merah yang terasa hangat. Ia ingat lembur semalam yang tidak dibayar. Tagihan kos yang menumpuk. Ibu yang tidak pernah mengeluh meskipun tahu anaknya kesulitan.

“Satu-satunya tawaran kerja malam ini,” gumamnya pahit, “datang dari tukang tagih jin.”

“Auditor,” koreksi perempuan itu. “Kami auditor.”

Raka menarik napas panjang. “Oke. Saya terima. Terus?”

Perempuan itu mengeluarkan kartu kedua—sama, hitam dengan stempel merah—dan menekannya ke telapak tangan Raka. Stempel itu terasa hangat, seperti baru dicap. “Selamat, Raka Wijaya. Kamu sekarang bagian dari Divisi Audit Gaib.” Raka menatap kartu itu. Tidak ada nama, tidak ada jabatan. Hanya stempel.

“Sayangnya,” lanjut perempuan itu, “kemampuanmu tidak masuk kategori mana pun. Tidak ada clearance. Tidak ada lisensi tempur. Tidak ada jabatan resmi. Statusmu: Tidak Tercatat.” Ia berhenti sejenak. Hujan menderas. “Besok pagi kamu ikut audit lapangan pertama.”

Raka menelan ludah. “Audit lapangan pertama?”

“Ya. Jangan terlambat.”

Perempuan itu berbalik dan berjalan masuk ke dalam hujan. Badannya tidak basah.

Raka berdiri di bawah kanopi, kartu hitam di tangan, dan untuk pertama kalinya dalam dua setengah tahun, ia tidak memikirkan lamaran yang hancur. Ia memikirkan buku hitam di belakang kepala Hendra Maheswari. Dan rantai di leher pria itu.

Divisi Audit Gaib — Gunamaya Studios