Ability Tidak Tercatat
Pukul 05.30 pagi, Jakarta belum sepenuhnya bangun. Tapi SCBD sudah hidup: lampu-lampu gedung menyala, satpam-satpam bergantian shift, dan barista di kafe bawah tanah sudah meracik pesanan pertama untuk eksekutif yang datang lebih awal dari bawahannya.
Raka berdiri di trotoar, baju masih lembab bekas hujan semalam. Ia sempat pulang ke kos, mandi lima menit, ganti baju—tapi tidak tidur. Pikiran tentang buku hitam, rantai di leher Hendra, dan perempuan yang tidak basah terkena hujan membuatnya terjaga sampai alarm subuh berbunyi.
Di tangannya, kartu hitam pemberian perempuan itu masih dingin. Atau hangat. Raka tidak bisa membedakan. Stempel merah di sudutnya tidak luntur meskipun semalaman ia simpan di saku celana yang lembab.
"Gedung apa ini?" gumamnya.
Kartu itu tidak memberi alamat. Tapi setibanya di kawasan SCBD—ia nebeng ojek online, karena uangnya cukup dan ia tidak mau telat di hari pertama kerja sejak dua tahun lebih—kakinya seperti ditarik oleh sesuatu. Bukan magnet. Lebih seperti ingatan otot: belok kiri di sini, masuk gang kecil di sana, lewat pintu samping yang tidak mencolok.
Seharusnya ia takut. Tapi setelah semalam melihat rantai hitam di leher calon mertua, ketakutan standar sudah tidak relevan.
Pintu samping itu ternyata pintu kaca biasa dengan stiker korporasi: Gunadharma Training Solutions — Mitra SDM Andal Sejak 1999. Tidak ada yang mencurigakan. Raka mendorongnya dan masuk.
Di dalam, resepsionis perempuan seusia ibunya mendongak dari komputer. Wajahnya datar. Di belakangnya, rak brosur bertumpuk rapi: Sertifikasi SDM, Pelatihan Kepemimpinan, Workshop Manajemen Risiko. Semua tampak legal. Normal. Membosankan dengan cara yang disengaja.
"Kartu."
Raka menyerahkan kartu hitam itu.
Resepsionis menempelkannya ke mesin pembaca di samping meja. Mesin itu berdengung. Layar menyala hijau. Tapi kemudian berkedip merah, dan sebuah pesan muncul:
IDENTITAS: RAKA WIJAYA STATUS: TIDAK TERCATAT KLASIFIKASI: ANOMALI AUDIT AKSES: TERBATAS — LANTAI DASAR & RUANG ORIENTASI
Resepsionis menatap layar, lalu menatap Raka. Ekspresinya sulit dibaca—antara iba dan waspada.
"Lantai dasar, ruang B-1. Duduk di belakang." Suaranya netral. "Dan jangan menyentuh apa pun sebelum dikasih tahu."
Raka mengangguk. Ia berjalan melewati pintu besi yang terbuka otomatis setelah resepsionis menekan tombol di bawah meja.
Koridor di belakang pintu besi sama sekali tidak terlihat seperti pusat pelatihan SDM. Dindingnya beton abu-abu, bukan drywall. Lampunya neon putih yang mendengung pelan. Udara terasa lebih dingin, dan ada bau samar—seperti logam dan dupa yang terbakar lama.
Orang-orang pertama yang ia temui berjalan tergesa-gesa. Sebagian mengenakan seragam lapangan abu-abu dengan lencana di dada. Sebagian lagi jas seperti eksekutif bank. Tidak ada yang menoleh kepadanya.
Ruang B-1 adalah aula besar tanpa jendela. Di depan, tiga layar digital menampilkan logo audit gaib: buku terbuka dengan rantai melingkar di sampulnya. Di tengah ruangan, sekitar dua belas orang seusia Raka sudah duduk di kursi lipat. Beberapa dari mereka tampak segar. Beberapa lain sama lembabnya dengan Raka.
Satu di antaranya—laki-laki kekar dengan jaket abu-abu yang terlalu besar untuk tubuhnya—menegur Raka tanpa menunggu salam.
"Lu yang Tidak Tercatat?"
Raka berhenti. "Baru dengar."
Dua-tiga orang mendengus. Laki-laki kekar itu menyeringai. "Gue Damar. Kata Pak Secan, ada anomali audit baru. Yang katanya bisa baca buku jin."
"Anda dengar dari Pak Siapa?"
"Secan. Satpam gedung." Damar tertawa kecil. "Lu terkenal, Bung. Sebelum masuk aja udah jadi bahan obrolan."
Raka menarik kursi di barisan belakang tanpa menjawab.
Ia belum sempat duduk ketika pintu di samping panggung terbuka. Seorang perempuan paruh baya masuk—rambut disanggul rapat, kacamata baca di ujung hidung, jas kantoran yang tidak mahal tapi tidak murahan. Ia membawa map cokelat tipis dan secangkir kopi yang tampaknya sudah dingin.
Semua orang di ruangan itu otomatis diam.
"Selamat pagi," kata perempuan itu tanpa menatap siapa pun. "Nama saya Prof. Ratih Suryaningrum. Saya instruktur utama kalian untuk sesi orientasi. Kalau kalian kenal saya dari rumor, lupakan. Saya tidak lebih kejam dari rumor. Tapi saya juga tidak lebih baik."
Ia menekan remote di tangannya. Layar di depan menyala.
"Hari ini kalian akan dikenalkan pada tujuh klasifikasi lapangan Divisi Audit Gaib."
Layar menampilkan tujuh ikon. Raka menyipitkan mata.
| Klasifikasi | Fungsi | |---|---| | Pemburu | Kontak fisik, pengejaran, penangkapan jin | | Penyegel | Membatasi pergerakan jin melalui segel | | Negosiator | Berunding dengan jin untuk restrukturisasi kontrak | | Auditor | Membaca dan memvalidasi kontrak gaib | | Juru Tagih | Menagih utang—termasuk paksa—atas nama kreditur | | Pemutih | Membersihkan atau merestrukturisasi utang secara legal | | Arsiparis | Mengelola dan mengamankan ledger kontrak terlarang |
Prof. Ratih menjelaskan masing-masing dengan cepat. Tepat. Tanpa basa-basi.
"Pemburu dan Penyegel adalah jalur paling prestisius," katanya. "Mereka yang di garis depan. Negosiator naik daun belakangan, karena semakin banyak kontrak yang perlu diubah daripada dimusnahkan. Auditor... yah, kalian bisa bayangin sendiri. Kami dianggap birokrat. Sampai kontraknya bermasalah. Baru kalian butuh kami."
Seorang perempuan di barisan depan mengangkat tangan. "Bu, kalau Juru Tagih dan Pemutih?"
Prof. Ratih diam sebentar. "Pemutih jarang. Lisensi ketat. Kalau kalian lulus, mungkin satu-dua orang per angkatan punya bakat ke arah itu. Juru Tagih..." Ia menjeda. "Juru Tagih tidak dilatih di sini. Itu jalur historis. Sebagian besar sudah dibekukan atau pensiun."
Tidak ada yang bertanya kenapa.
Raka mencatat tujuh nama itu di dalam kepala. Auditor. Itu paling dekat dengan kemampuannya, pikirnya. Membaca buku, memvalidasi kontrak. Tapi kenapa statusnya Tidak Tercatat?
Ia tidak sempat merenungkan lebih lama karena Prof. Ratih tiba-tiba berkata, "Sekarang, kalian akan menunjukkan bakat kalian."
Prof. Ratih memimpin mereka keluar aula, menyusuri koridor pendek yang dindingnya berganti dari beton abu-abu menjadi panel logam berkilau. Udara di sini lebih dingin—bukan dari AC, tapi dari sesuatu yang mengisap panas di sekeliling mereka. Di ujung koridor, sebuah pintu ganda besi terbuka, dan Raka melihat lapangan latihan tertutup. Ukuran lapangan basket, tetapi langit-langit setinggi tiga lantai, dan dindingnya dilapisi panel yang sama—logam reflektif yang membuat bayangan mereka berlipat-lipat di setiap sudut.
Satu per satu, calon staf dipanggil ke tengah.
Laki-laki pertama—rambut ikal, postur biasa—berjalan ke tengah lapangan. Ia merentangkan tangan. Dari telapaknya, api biru menyala tanpa sumber. Beberapa orang bersiul. Prof. Ratih mencatat tanpa ekspresi.
"Klasifikasi Pemburu tahap awal. Potensi penyegelan juga ada. Lanjut."
Perempuan kedua. Ia berlutut, menyentuh lantai. Garis-garis perak menyebar dari ujung jarinya, membentuk pola segel rumit di bawah kakinya. Lapangan itu bergetar—lampu neon di atas berkedip-kedip. Raka merasakan sesuatu di dadanya: seperti tekanan udara sebelum badai, seperti ruangan yang tiba-tiba kehabisan oksigen.
"Penyegel alami. Jarang." Prof. Ratih menulis tanpa menatapnya.
Ketiga. Keempat. Kelima... masing-masing menunjukkan sesuatu yang spektakuler. Ada yang bisa mendeteksi keberadaan jin di ruang kosong—menunjuk ke sudut lapangan dan berkata, "Ada satu. Diam." Ada yang bisa menyusutkan bayangannya sendiri—lalu memperbesarnya hingga menelan setengah dinding. Ada yang bisa memanggil senjata dari asap: sebuah keris yang terbentuk dari uap, solid selama tiga detik sebelum larut kembali. Setiap demonstrasi disambut tepuk atau siulan atau bisik kagum.
Damar, laki-laki kekar tadi, berjalan ke tengah dengan percaya diri. Ia membentak, suaranya menggema di lapangan. Dari cakarnya—tunggu, cakar?—tumbuh semacam energi hitam yang berputar di sekeliling tangannya. Dalam hitungan detik, ia menghantam lantai dengan kepalan. Betonnya retak.
Beberapa orang bersorak.
Raka menelan ludah.
Gue harus ngapain di sini?
"Nama berikutnya: Raka Wijaya."
Ia berjalan ke tengah lapangan. Semua mata tertuju padanya di belakang. Di sekelilingnya, masih ada asap tipis dari pukulan Damar yang mengepul dari retakan lantai.
Raka mengangkat tangannya. Menunggu sesuatu terjadi.
Tidak ada apa-apa.
Ia memejamkan mata. Memikirkan buku hitam semalam. Rantai di leher Hendra. Prasasti di bahu Kirana. Baca. Lihat. Sesuatu.
Di bawah kelopak matanya, halaman-halaman mulai muncul. Samar-samar, seperti tulisan di kertas basah. Angka. Nama. Tinta merah. Dan—Raka membuka mata.
Di atas telapak tangannya, selembar cahaya tipis berkedip. Bukan api. Bukan segel. Hanya sepenggal bayangan buku, nyaris transparan, dengan satu kata yang nyaris terbaca: Agunan.
Raka menyadari sesuatu: kemarin, di meja Hendra, hanya ia yang bisa melihat buku hitam itu. Tapi kali ini, dari cara orang-orang menatap telapak tangannya, dari desahan kecil yang keluar dari beberapa calon staf—mereka bisa melihatnya. Cahaya di tangannya bukan sekadar penglihatan pribadi. Ketika ia memaksa, kemampuannya bisa keluar—menjadi sesuatu yang kasat mata.
Kemudian cahaya itu padam.
Ruangan hening sejenak. Lalu seseorang tertawa.
"Itu aja?" Suara Damar dari barisan belakang. "Buku bayangan? Satpam pembukuan jin."
Tawa lain menyusul. Beberapa orang, mungkin untuk sopan santun, berusaha tidak tertawa. Tapi Raka bisa melihat bahu mereka bergetar.
Raka menurunkan tangannya. Halaman itu tidak muncul lagi.
Prof. Ratih menatapnya lima detik lebih lama daripada yang lain. "Raka Wijaya. Klasifikasi: Tidak Tercatat. Anomali audit. Duduk."
Ia kembali ke kursinya tanpa bicara.
Selebihnya, sesi orientasi berjalan seperti kabut. Raka mendengar setengah dari apa yang dikatakan Prof. Ratih tentang struktur kelas akses—clearance, katanya dalam istilah teknis—tentang sistem kredit jam audit, tentang hierarki dan hukuman institusi. Tapi kepalanya penuh dengan satu hal:
Satpam pembukuan jin.
Ia menggenggam lututnya sendiri di bawah kursi.
Di sampingnya, kursi kosong. Semua calon staf lain memilih duduk di barisan depan atau tengah, membiarkan ia sendiri di belakang.
Kecuali satu orang.
Laki-laki kekar dengan jaket kebesaran—bukan Damar, yang lain—berjalan mundur dan duduk dua kursi dari Raka. Ia tidak menatap Raka. Tapi suaranya pelan.
"Gue Jalu."
Raka menoleh.
"Lo nggak usah dengerin Damar. Dia emang brengsek dari lahir."
"Makasih," gumam Raka. "Tapi dia nggak salah."
Jalu mendengus. "Dia juga bilang gue cuma bodyguard titipan beasiswa pas tes fisik gue cuma angkat besi. Padahal fisik adalah fondasi. Lo liat nanti. Di lapangan, bacaan lo lebih berguna dari api biru."
Raka tidak yakin apakah Jalu sungguhan percaya atau cuma bersikap baik.
Tapi setidaknya ada satu orang yang tidak menertawakannya.
Pintu lapangan terbuka.
Seorang perempuan masuk—rambut panjang diikat ekor kuda rendah, jas rapi, langkah pendek tapi pasti. Ia tidak berlari. Tapi setiap orang di ruangan itu merasakan kehadirannya sebelum melihat wajahnya. Beberapa calon staf menegakkan punggung.
Raka mengenali gaya jalannya. Tenang. Terkendali. Seperti seseorang yang terbiasa tidak perlu membuktikan apa pun.
Prof. Ratih menoleh. "Naira. Tepat waktu seperti biasa."
Naira Adhitama mengangguk singkat. Matanya menyapu ruangan—dan untuk setengah detik, bertemu dengan Raka. Tidak ada rasa penasaran. Tidak ada penghinaan. Hanya pengamatan murni.
Lalu ia duduk di barisan paling depan, tanpa bicara pada siapa pun.
Jalu berbisik, "Itu Naira Adhitama. Kelas aksesnya paling tinggi di angkatan—A1. Artinya dia boleh buka sampai arsip terbatas. Keluarga Adhitama—lo tahu, sponsor utama divisi ini. Dia bukan calon staf biasa."
Raka menatap punggung Naira. Adhitama. Nama itu mengingatkannya pada sesuatu, tapi ia tidak bisa menempatkannya.
Sore hari, setelah sesi orientasi usai dan demonstrasi selesai, Prof. Ratih mengumpulkan semua calon staf di papan digital besar yang menyala di dinding aula.
"Pukul 06.00 besok pagi, audit lapangan pertama dimulai. Ini adalah uji kelulusan kalian sebagai calon staf. Kalian akan ditempatkan dalam tim. Kalian akan menghadapi jin terkategori dalam lingkungan terkendali."
Papan itu menyala. Satu per satu nama muncul dalam tabel digital.
| Nama | Kelas Akses | Status Lapangan | |---|---|---| | Naira Adhitama | A1 | Aman | | Damar Wicaksana | B2 | Siaga | | Jalu Prabaswara | C1 | Siaga | | [nama-nama lain] | C2–D1 | Siaga |
Raka memindai daftar itu dari atas ke bawah. A, B, C, D, pikirnya. Semakin rendah huruf, semakin rendah aksesnya. Dan ia tidak punya huruf sama sekali. Semua nama punya kelas akses. Semua punya klasifikasi. Bahkan nama di baris paling akhir—seseorang yang bernama Herman—tercatat sebagai Pemburu D2.
Kemudian, di baris terakhir, sebuah baris baru muncul dengan sendirinya. Seperti seseorang mengetik di belakang papan:
Raka Wijaya — kelas akses: TIDAK TERCATAT — risiko lapangan: MERAH — tidak disarankan dikirim.
Di samping label merah itu, sebuah catatan sistem: Calon staf ini tidak memiliki kemampuan yang terverifikasi. Risiko lapangan tidak dapat diprediksi. Pengiriman atas tanggung jawab instruktur.
Prof. Ratih membacanya tanpa perubahan ekspresi. Suaranya datar. "Kalau ada pertanyaan, kalian bisa tanyakan sekarang. Setelah pintu ini tutup, diam-diam saja diartikan setuju."
Damar menengok ke belakang, ke arah Raka, dan tersenyum lebar. "Selamat bertugas, satpam."
Tawa kecil dari beberapa arah.
Raka menarik napas.
Tidak disarankan dikirim.
Tapi tetap dikirim.
Sama seperti malam itu di meja makan Hendra Maheswari. Semua orang tahu ia tidak seharusnya ada di sana—tapi tidak ada yang menghentikannya.