Divisi Audit Gaib

Klausul Anak Sulung

Bab 4·1890 kata·9 menit baca

Gelap. Jaring merah berdenyut pelan di sekeliling mereka, seperti nadi ruangan yang masih hidup. Raka tidak bisa melihat apa pun—hanya samar-samar garis-garis bercahaya yang bergetar di udara, seperti saraf yang telanjang. Tapi ia bisa mendengar semuanya. Napas pendek-pendek. Langkah mundur di beton. Detak jantung yang mungkin miliknya sendiri—cepat, tidak beraturan.

"Satu menit dua puluh detik," seseorang berbisik—mungkin teman Aning. "Kita belum genap dua menit."

"Kita keluar," suara lain. "Hancurkan pintunya."

"Pintunya dari besi setebal—" seseorang mencoba menjelaskan, tapi suaranya tenggelam oleh teriakan lain.

"Terserah! Kita di sini bakal mati!"

"Diam." Suara Jalu. Tenang, tapi tegas seperti potongan besi. "Panik bikin mati lebih cepet. Lo liat sendiri efeknya ke Aning."

Keheningan. Raka merasakan tubuhnya sendiri—tidak ada benang melingkar di dadanya. Tapi ledgernya berdenyut. Seperti buku yang menunggu dibuka. Seharusnya gue mati rasa, pikirnya. Tapi kenapa gue nggak?

Lalu seseorang batuk. Batuknya dalam dan basah, seperti ada sesuatu yang tumbuh di tenggorokan dan mencoba keluar. Samar-samar, sebelum lampu padam total, Raka sempat melihat seorang calon staf berlutut—tangannya mencengkeram leher, urat di pelipis menonjol.

"Siapa itu?" bisik seseorang.

"Aning." Suara perempuan, gemetar. "Dia... dia biru. Mukanya biru."

Kekacauan pecah. Beberapa calon staf mundur ke dinding, menjauh dari suara itu. Yang lain berteriak memanggil nama Aning. Seseorang menyenter ponsel ke arah suara—cahaya putih menerangi lorong cukup lama untuk Raka melihat: seorang laki-laki berlutut, kedua tangan mencengkeram lehernya sendiri, urat di pelipisnya menonjol seperti akar. Matanya terbuka, putih semua.

"Jangan disentuh!" Naira. Keras. "Jaringnya masih aktif."

Benar. Samar-samar, di sekitar leher Aning, benang merah melingkar erat—seperti jerat yang dikendalikan tangan tak terlihat. Setiap kali Aning bergerak, benang itu mengencang.

Raka memaksakan matanya menyesuaikan dengan gelap. Samar-samar ia melihat siluet. Seorang calon staf—laki-laki, yang tadi menunjukkan kemampuan deteksi—berlutut di lantai, kedua tangannya mencengkeram lehernya sendiri. Wajahnya sulit dilihat, tapi dari caranya menggelepar, Raka bisa menebak: ia tidak bisa bernapas.

Jaring merah di sekelilingnya berdenyut lebih cepat.

"Jinnya mulai," kata Naira. Suaranya masih tenang, tapi nadanya berbeda—seperti senar yang ditarik sampai batas. "Klausul anak sulung. Ia mencari firstborn."

"Itu Herman," kata seseorang. "Dia anak pertama."

Raka menatap jaring merah. Sekarang ia bisa melihat pola di dalamnya. Benang-benang itu tidak acak. Mereka membentuk garis-garis yang terhubung ke setiap calon staf—beberapa hanya menyentuh permukaan, yang lain melingkar erat di dada. Dari arah Herman, terdengar suara tersedak lagi—lebih lemah dari sebelumnya. Bunyi yang tidak ingin didengar siapa pun di ruangan ini.

Yang melingkar erat: Naira. Herman. Dua orang lain yang tidak Raka kenal. Dan—ia melihat ke bawah—dirinya sendiri.

Anak pertama, pikirnya. Gue juga anak pertama.

Tapi kenapa ia tidak tersedak?

"Jangan bergerak," Naira memerintah. Suaranya kini lantang. "Semakin kalian melawan, semakin erat jaringnya. Herman melawan. Itu kenapa dia hampir mati."

Dari gelap, suara Damar. "Jadi kita diem aja?"

"Kau lihat sendiri apa yang terjadi pas kau serang dia."

Damar tidak menjawab. Tapi Raka mendengar gertakan gigi. Di sudut lain, seseorang mulai merapal—salah satu calon staf penyegel, mencoba membentuk segel di udara. Garis-garis perak muncul samar di ujung jarinya, mengarah ke siluet di ujung lorong. Tapi sebelum segel itu sempurna, jaring merah berdenyut—dan garis perak itu putus seperti benang yang dipotong gunting.

"Segelku... dipotong," suara penyegel itu, tidak percaya.

"Karena tidak punya identitas debitur," kata Naira. Cepat. Tepat. "Seal tanpa nama debitur sama saja menulis alamat tanpa penerima. Tidak sampai."

"Lalu bagaimana?" suara lain, panik. "Kita biarkan Aning mati?"

Raka mendengar Naira menarik napas. Untuk pertama kalinya, ia terdengar tidak yakin. "Ada satu cara. Tapi butuh nama debitur yang benar."

Dari ujung lorong, getaran itu kembali. Kini lebih jelas, lebih terstruktur—seperti suara yang belajar berbicara.

"A-nak su-lung." Kalimat itu diucapkan seperti sedang mencocokkan data—setiap suku kata diuji sebelum dilanjutkan.

Herman, di lantai, menggelepar lebih lemah. Tangannya lepas dari leher. Jatuh ke samping.

"Dia kenapa?" suara seseorang nyaris histeris.

"Masih hidup," jawab Jalu. Raka tidak tahu dari mana suara itu datang—tapi nadanya melegakan. "Tapi kalau nggak dihentikan..."

Raka tidak menunggu sisanya. Ia memejamkan mata.

Ledger-nya muncul segera—seperti buku yang tahu ia dibutuhkan. Tapi kali ini tidak mudah. Biasanya ledger datang jernih, baris demi baris rapi seperti dokumen legal. Kali ini halaman-halamannya kabur, tumpang tindih, seperti tulisan di kertas yang basah lalu dikeringkan paksa. Matanya terasa disodok jarum—bukan kiasan. Benar-benar seperti ada sesuatu yang menusuk dari belakang bola matanya.

Kenapa sekarang sakit?

Karena kemarin kau cuma membaca sekilas. Sekarang kau memaksa.

Raka menekan rasa sakit itu. Ledger-nya merespon—perlahan, tapi ia mulai melihat bentuk.

// Fra-a-agmen penagihan // klausul 7 — eksekusi // anak su-lung...

"Baca," bisik Raka pada dirinya sendiri. Air mata mengalir di pipinya—bukan karena sedih, tapi karena matanya memproduksi cairan sebagai respon terhadap tekanan. "Baca."

// ...sah dari debitur... //

Di latar belakang, seseorang mulai merapal lebih cepat—mencoba segel lagi. Garis perak muncul di ujung jarinya, tegang, hampir terbentuk. Tapi jaring merah berdenyut—dan garis itu putus lagi. Kali ini disertai erangan frustrasi.

Sah dari debitur. Itu penting.

// ...agunan: anak sulung sah dari pihak debitur... //

Raka membuka mata. Jaring merah di depannya berdenyut lebih lambat. Seperti sedang menunggu.

"Dia tidak menyerang kita," katanya.

"Apa?"

Jalu dari suatu tempat. "Lo yakin?"

"Lihat." Raka menunjuk—meskipun tidak ada yang bisa melihat. "Benangnya cuma melingkar di firstborn. Tapi tidak mencekik kecuali yang melawan. Herman melawan. Yang lain diam, masih bernapas. Berarti ini bukan serangan langsung. Ini deteksi. Dia mencari siapa yang memenuhi syarat."

Siluet di ujung lorong bergerak. Berputar. Kini dua titik merah mengarah ke Raka.

"Kamu bisa baca," kata getaran itu. Kali ini bukan ke semua orang. Ke Raka. "Kamu terdaftar sebagai... Tidak Tercatat."

Raka diam. Denyut ledgernya semakin sakit.

"Tapi kamu bisa baca. Maka baca ini: anak sulung debitur harus diserahkan. Di mana debitur?"

"Tidak ada debitur di sini," jawab Raka. Suaranya serak. "Kami bukan debitur."

"Agunan tetap harus diberikan."

"Tapi kontrakmu menarget 'anak sulung sah dari debitur.' Anak-anak di sini bukan anak Wiryawan."

Diam. Lama sekali. Cukup lama untuk membuat Herman batuk lagi—lebih lemah.

Kemudian getaran itu menjawab:

"Siapa Wiryawan?" suara Naira bertanya di sampingnya. Pelan. Hanya untuk Raka.

Raka menggeleng. "Ledger bilang nama itu. Tapi saya tidak—"

"Dia bukan Hartono. Bukan nama di file audit." Naira menghela napas—pendek, seperti baru mengambil keputusan. "Kau bisa baca alamat asli kontrak ini?"

"Mencoba."

"Jangan mencoba. Lakukan." Suaranya berubah—nada darurat, seperti seseorang yang kehabisan waktu. "Karena kalau kau tidak dapat alamat itu, segel tidak bisa diarahkan. Dan kalau segel tidak bisa diarahkan, jin ini akan terus menagih sampai salah satu dari kita mati."

Raka menatapnya. Di lorong yang masih gelap sebagian, Naira tidak lagi terlihat seperti elite probationary staff yang dingin. Ia terlihat seperti seseorang yang sedang menahan sesuatu yang lebih besar dari sekadar jaring merah.

"Kau tahu ada apa di balik ini," bisik Raka.

"Aku tahu keluarga siapa yang namanya tertulis di kontrak ini." Naira menatapnya. "Itu cukup untuk saat ini."

"Debitur asli kontrak ini," kata Raka. Ia berharap suaranya tidak gemetar. "Kami bukan debitur. Kontrak ini salah sasaran. File audit di luar bilang Hartono—tapi ledger di dalam bilang Wiryawan. Seseorang mengganti nama debitur sebelum kalian mengirim fragmen ini ke sini."

Diam lagi. Tapi kali ini terasa berbeda—getaran itu tidak mencari jawaban. Ia sedang mencerna.

"Maka ke mana harusnya penagihan ini ditujukan?"

Pertanyaan itu menggantung. Raka bisa merasakan semua mata di lorong ini tertuju padanya—bukan karena percaya, tapi karena tidak ada pilihan lain.

"Ledger akan tahu," kata Raka. Lebih ke dirinya sendiri daripada Naira.

Ia memejamkan mata. Jarum di matanya menusuk lebih dalam—tapi ia tidak bisa berhenti sekarang. Ledger-nya memprotes, halaman-halaman berputar terlalu cepat, seperti buku yang dipaksa membuka di tengah badai.

// kontrak asli // debitur: Wiryawan // kreditur: tidak tercatat // agunan: anak sulung // klausul 7 — jika debitur gagal bayar, penagihan ditujukan ke... //

Ledger-nya memutih. Untuk sesaat, Raka tidak bisa melihat apa-apa—hanya putih, seperti sinar laser yang dibiarkan menyentuh retina terlalu lama. Ia berpikir: kalau gue buta, gimana?

Tapi kemudian putih itu memudar. Dan angka-angka mulai terbentuk.

// alamat penagihan: Jalan M.H. Thamrin Kav. 28 — Adhitama Group, lantai 17 //

Raka membuka mata. Jaring merah di sekelilingnya berhenti berdenyut. Siluet di ujung lorong menunggu.

"Alamatnya," kata Raka. "Penagihan ini harusnya dikirim ke..." Ia membaca apa yang tertulis di kepalanya, dan untuk sesaat ia ingin berhenti. Tapi ia sudah terlalu jauh. "...Adhitama Group. Lantai 17. Bukan ke kita."

Kalimat itu menggantung di udara.

Seseorang di belakang bersiul pelan—tidak mengerti. Tapi Naira mengerti. Raka tidak perlu menatapnya untuk tahu. Ia bisa merasakan tubuh Naira membeku di sampingnya—bukan seperti orang yang kaget, tapi seperti orang yang baru saja dikonfirmasi ketakutannya yang sudah lama dipendam.

"Adhitama Group," ulang seseorang. "Bukannya itu—"

"Diam." Suara Naira. Dingin. Final. "Jangan sebut nama itu di sini."

Tidak ada yang membantah.

Raka menoleh. Untuk sekian detik, mata mereka bertemu—atau setidaknya Raka bisa melihat garis wajah Naira di cahaya neon yang baru pulih.

"Kau tahu?" bisik Raka.

Naira tidak menjawab. Tapi diamnya adalah jawaban.

Siluet itu bergerak. Perlahan, berputar—menjauh dari mereka, ke arah lorong gelap. Seperti sedang mengubah arah.

Tapi sebelum lenyap, ia berhenti. Berbalik sekali lagi. Dua titik merah menatap Raka.

"Wijaya," katanya. Nama itu keluar seperti gema dari tempat yang lebih dalam dari sekadar tenggorokan. Cara ia mengucapkannya memberi kesan bahwa nama itu sudah tersimpan lama, menunggu saat yang tepat untuk dipanggil.

"Penagih lama... kembali."

Kemudian siluet itu larut—mencair perlahan ke dalam gelap, seperti tinta dalam air. Jaring merah menguap mengikuti, benang demi benang, sampai tidak ada sisa. Lampu neon di lorong menyala satu per satu, kembali hidup, seperti tidak pernah terjadi apa-apa. Herman di lantai batuk besar, menghirup udara dengan suara serak yang justru menenangkan—dia masih hidup.

Raka berdiri diam. Ledgernya masih berputar, tapi ia tidak lagi membacanya. Ia tidak perlu. Kalimat itu sudah tercetak di kepalanya, lebih jelas dari apa pun di ledger:

Penagih lama. Wijaya. Penagih lama kembali.

"Apa maksudnya?" bisiknya. Tidak ada yang menjawab. Tapi Jalu telah berdiri di sampingnya, dan dari cara Jalu menatapnya—bukan takut, bukan simpati, tapi penasaran—Raka tahu pertanyaan itu tidak akan hilang dalam waktu dekat.

Di lorong yang baru terang, Naira menatapnya dengan sorot yang tidak bisa Raka baca. Kemarin ada penghinaan di matanya. Beberapa menit lalu ada observasi dingin. Sekarang... sesuatu yang lebih rumit. Seperti ia baru saja melihat hal yang tidak ia duga akan ada.

"Istirahat." Nadanya tidak memberi ruang untuk diskusi. "Kau terlihat seperti mau pingsan."

Raka tidak menyadari bahwa ia sudah berlutut.

Udara di lorong terasa normal kembali. Lampu neon menyala penuh—tidak ada kedip, tidak ada gelap. Lantai beton retak di beberapa tempat, bekas serangan Damar. Lingkaran merah di tengah masih utuh. Tapi jaringnya hilang. Jinnya hilang. Seperti tidak pernah terjadi apa-apa.

"Waktu," seseorang bertanya. "Berapa sisa waktu?"

Jalu melihat jam dinding di ujung lorong. "Dua puluh dua menit."

"Kita menang?"

Tidak ada yang menjawab. Karena tidak ada yang yakin apa arti "menang" di sini.

Pintu besi di ujung lorong terbuka dengan desahan pneumatik. Prof. Ratih masuk—tidak berlari, tidak terburu-buru. Ia memandangi lorong: retakan di beton, Aning yang masih ditopang temannya, Herman di lantai, Raka yang masih berlutut. Wajahnya tidak berubah.

Ia mengangkat radio di kerahnya. "Tim kebersihan, lorong tiga. Sterilisasi Kategori-2. Satu calon staf butuh observasi." Suaranya datar seperti sedang memesan kopi. Lalu ia berbalik dan berjalan keluar—tanpa bertanya, tanpa penjelasan, tanpa menatap Raka sekali pun.

Radio di tangannya berderak: "Diterima. Sterilisasi dimulai."

Pintu besi tertutup kembali.

Raka berdiri, ditopang Jalu, dan untuk pertama kalinya ia sadar: apa yang baru saja terjadi di ruangan ini—mislassifikasi, nama Wiryawan, alamat Adhitama Group—kemungkinan besar tidak akan muncul di laporan resmi. Prof. Ratih tidak bertanya karena ia sudah tahu. Atau karena ia sengaja tidak ingin tahu.

Divisi Audit Gaib — Gunamaya Studios