Divisi Audit Gaib

Ruang Sisa

Bab 6·1434 kata·7 menit baca

Pagi itu Jakarta bangun seperti biasa — lembap, macet, dan penuh dengan orang yang mencoba tiba tepat waktu meskipun tahu tidak akan tepat waktu.

Raka tiba di Gunadharma Training Solutions pukul 06.45, lima belas menit lebih awal dari jadwal yang diberikan resepsionis semalam. Ia sudah mandi, sudah sarapan nasi bungkus dari warung dekat kos, dan sudah memutuskan untuk tidak memikirkan kertas di sakunya — setidaknya sampai ia tahu lebih banyak.

Tapi keputusan itu langsung diuji saat kartu identitasnya tidak berfungsi di pintu masuk utama.

Bip. Tolak.

Ia coba lagi. Bip. Tolak.

Resepsionis yang sama dari kemarin menatapnya dari balik meja — sebentar, lalu kembali ke layar komputernya seolah Raka adalah masalah yang bukan urusannya. Raka hampir bertanya ketika pintu di sebelah resepsionis — pintu tanpa pegangan, tanpa stiker korporasi — terbuka dengan bunyi klik yang berat.

Di baliknya, tangga. Tidak ada lift. Tidak ada lorong terang dengan lampu neon yang tidak berdengung. Hanya tangga beton yang menurun, dengan lampu darurat di setiap sudut yang membuat bayangan bergerak sendiri.

Kartunya, ketika ditempelkan ke pembaca di samping pintu itu, berbunyi hijau.

Lantai dasar: akses ditolak. Basement: akses diterima.

Raka menuruni tangga.

Basement Gunadharma Training Solutions tidak dirancang untuk mengesankan.

Langit-langit rendah, pipa-pipa air dan kabel listrik berjalan terbuka di atas kepala, dan lantai keramik abu-abu sudah retak di beberapa tempat — retak yang sudah lama, seperti tidak ada yang peduli untuk memperbaiki. Lampu neon di sini berbeda dari lantai atas — yang ini berdengung. Dengungan rendah, stabil, seperti latar belakang yang tidak pernah berhenti.

Di ujung koridor, sebuah pintu dengan stiker pudar: RUANG SISA — ARSIP NONAKTIF.

Raka mendorong pintu.

Di dalam, ruangan berukuran sekitar enam kali delapan meter — cukup untuk empat meja yang disatukan di tengah, dua lemari arsip berkarat di sudut, dan satu papan tulis putih yang sudah tidak putih lagi, lebih abu-abu karena penggunaan bertahun-tahun. Tidak ada jendela. Sirkulasi udara berasal dari AC jendela di dinding belakang yang bunyinya seperti akan mati kapan saja.

Tiga orang sudah duduk di meja.

Jalu — tangan kanan di belakang kepala, kaki di atas meja, senyum lebar seperti ia baru menang lotre — melambai. "Bro! Selamat datang di divisi paling eksklusif."

Raka melihat sekeliling. "Ini bekas gudang."

"Bekas arsip," koreksi Jalu. "Tapi kita panggil Ruang Sisa. Lebih kejam, lebih jujur."

Di seberang Jalu, seorang perempuan seusia Raka duduk dengan punggung tegak — kemeja putih lengan panjang, rambut diikat ekor kuda, ekspresi waspada. Tidak ramah, tidak bermusuhan. Hanya memperhatikan.

"Kirani," katanya singkat, tanpa berjabat tangan.

Raka mengangguk. Ia sudah belajar bahwa di unit ini, perkenalan panjang berarti kamu tidak dianggap ancaman.

Di sudut, seorang laki-laki dengan hoodie kebesaran dan kacamata tebal — lebih mirip mahasiswa teknik yang begadang tiga malam — sedang menulis sesuatu di buku catatan. Ketika Raka masuk, ia mendongak sebentar, lalu kembali menulis.

"Adi," kata Jalu, menunjuk ke arahnya. "Dia kalau sudah pegang buku catatan, dunia bisa kiamat pun dia nggak akan lihat."

Adi tidak membantah. Tidak mengonfirmasi. Hanya terus menulis.

Jalu menurunkan kakinya dan menepuk kursi di sampingnya. "Duduk. Lo luput dari orientasi kemarin — ternyata kita semua di sini karena satu alasan."

"Karena apa?"

"Karena kita diklasifikasikan sebagai tidak cukup berbahaya untuk diawasi, tapi terlalu merepotkan untuk ditaruh di grup normal."

Raka duduk. "Kedengarannya seperti tempat pembuangan."

"Kedengarannya memang," Jalu tersenyum lebar. "Tapi di divisi ini, tempat pembuangan sering kali tempat start yang paling menarik."

Pukul 07.00, pintu terbuka — dan Prof. Ratih masuk tanpa mengetuk, tanpa ucapan selamat pagi, tanpa menatap satu pun dari mereka.

Ia meletakkan map cokelat di meja — yang sama dari kemarin, mungkin — lalu menulis sesuatu di papan tulis abu-abu. Kapur putih berderit. Empat kata:

DEBITUR. KREDITUR. AGUNAN. PELANGGARAN.

"Dengar baik-baik," katanya tanpa menoleh. "Karena aku hanya akan mengajarkan ini sekali."

Raka mengambil bolpoin dari saku. Di sebelahnya, Jalu mencondongkan tubuh ke depan — untuk pertama kalinya pagi ini, ia terlihat serius.

Prof. Ratih menulis di bawah setiap kata.

| Kata | Definisi | |---|---| | Debitur | Pihak yang berutang — manusia, keluarga, atau institusi | | Kreditur | Pihak yang memberi utang — jin, entitas kontrak, atau perantara | | Agunan | Jaminan — nyawa, ingatan, garis keturunan, nama, takdir, atau benda yang mewakili nilai spiritual | | Pelanggaran | Tindakan yang memicu hak penagihan — termasuk gagal bayar, manipulasi klausul, atau pengalihan sepihak |

"Di lapangan, kalian akan melihat banyak istilah aneh," lanjutnya. "Fragmen penagihan. Bunga rohani. Klausul retak. Semua itu adalah turunan dari empat kata ini. Kalau kalian paham debitur, kreditur, agunan, dan pelanggaran — kalian paham semua kontrak. Kalau tidak paham, kalian akan mati karena tidak baca pasal kecil."

Ia berhenti. Menatap satu per satu.

"Pertanyaan."

Kirani mengangkat tangan. "Bagaimana cara menentukan agunan yang sah? Kalau kontraknya lisan?"

"Kontrak lisan tetap mengikat — kalau ada saksi. Jin tidak butuh kertas. Tapi tanpa agunan, kontrak tidak punya kekuatan penagihan. Jadi pertanyaan pertama yang harus kalian jawab di setiap kasus: apa yang dijaminkan?"

Jalu mengangkat tangan. "Kalau agunannya nyawa — apa berarti orang itu pasti mati?"

"Tergantung pasal." Prof. Ratih melipat tangan. "Ada kontrak yang menggunakan nyawa sebagai batas waktu — bukan sebagai pembayaran. Kalau debitur memenuhi kewajiban dalam waktu yang ditentukan, nyawa tidak akan diambil. Tapi kalau gagal bayar, kreditur berhak menjalankan klausul penagihan."

Raka mendengarkan dengan konsentrasi penuh. Ini berbeda dari teori orientasi kemarin — yang itu basa-basi, perkenalan. Ini adalah bahasa yang sebenarnya dipakai di lapangan. Bahasa yang harus ia kuasai jika ingin bertahan.

"Ada kontrak yang menggunakan kenangan sebagai agunan," lanjut Prof. Ratih, suaranya datar seperti membaca buku pedoman. "Atau nama. Atau garis keturunan. Semakin berharga agunan, semakin kuat daya ikat kontrak. Semakin kuat daya ikat, semakin sulit diputuskan tanpa korban."

Ia menatap Raka — langsung, untuk pertama kalinya.

"Karena itu, jangan pernah berpikir bahwa membaca kontrak adalah pekerjaan yang aman. Membaca kontrak berarti kalian ikut terikat — setidaknya sampai kalian menutup map dan menandatangani laporan."

Pelajaran berlangsung sekitar empat puluh menit. Tidak ada istirahat. Tidak ada gurauan. Prof. Ratih menjawab pertanyaan dengan presisi yang membuat Raka iri — ia ingin bisa berpikir secepat itu.

Saat Prof. Ratih selesai, ia membuka map cokelatnya dan mengeluarkan satu berkas tipis.

"Ini kasus pertama kalian."

Ia meletakkannya di tengah meja.

Klimaksnya satu halaman. Jenis kasus: Gangguan hantu ringan — anak yang muncul di cermin apartemen mewah. Klasifikasi rendah. Lokasi: apartemen di kawasan Menteng. Klien: pemilik unit yang mengeluh penyewa kabur karena penampakan.

Jalu meraih berkas itu dan membacanya cepat. "Anak di cermin? Ini kelihatannya bukan kasus besar."

"Memang tidak," kata Prof. Ratih. "Tapi kalian — grup ini — yang akan menanganinya."

Raka melihat ke sekeliling meja. Kirani diam, ekspresinya tidak berubah. Adi menatap berkas itu dari balik kacamatanya — diam, tapi matanya bergerak cepat membaca. Jalu mengangkat alis, antara tertarik dan skeptis.

"Kami?" tanya Raka.

"Kalian." Prof. Ratih tidak terguncang. "Audit lapangan tidak selalu tentang kasus besar. Kadang tentang kasus kecil yang salah klasifikasi."

Nada terakhir yang ia ucapkan — salah klasifikasi — membuat Raka menegang. Ia tahu frasa itu. Kemarin, kata itu yang hampir membunuhnya di lorong audit.

"Kami akan dikirim ke apartemen itu?" tanya Raka.

"Besok pagi. Untuk pengintaian awal." Prof. Ratih berbalik ke pintu. "Jalu sebagai pemimpin lapangan. Raka sebagai pembaca. Kirani sebagai pengaman perimeter. Adi sebagai pencatat."

Sebelum keluar, ia berhenti.

"Dan Sdr. Wijaya — satu hal."

Raka menunggu.

"Berkas itu kata 'gangguan ringan.' Pada kenyataannya, tidak ada kasus yang dikirim ke basement yang ringan."

Pintu tertutup. Bunyi klik kunci di belakangnya.

Ruangan diam selama beberapa detik. Kemudian Jalu mendorong berkas itu ke tengah meja.

"Nah, gimana menurut lo?"

Raka meraih berkas itu. Halaman pertama — deskripsi standar. Laporan pemilik apartemen. Keluhan penyewa. Tidak ada luka. Tidak ada kematian. Klasifikasi: rendah.

Tapi sesuatu mengganggunya. Ia tidak tahu apa — tidak ada yang bisa ia lihat dengan Mata Ledger, karena ia belum menggunakan kemampuannya. Hanya firasat. Seperti ada detail yang tidak cocok.

Ia membuka halaman kedua.

Dan berhenti.

Di sudut map, di dekat stapler, tinta hitam merembes keluar — seperti tulisan yang berusaha kabur dari kertas. Bukan tinta printer. Bukan noda kopi. Cairan hitam, pekat, merembes perlahan tanpa sumber yang jelas.

"Lo lihat ini?" tanya Raka, menunjuk.

Jalu mencondongkan tubuh. Kirani mendekat. Adi mendongak dari buku catatannya.

Tidak ada yang melihat apa-apa. Hanya kertas putih dengan noda hitam — yang bagi mereka mungkin hanya noda biasa.

Tapi bagi Raka, tinta itu mengalir. Bergerak. Seperti ada yang mencoba menulis pesan dari dalam amplop tertutup.

"Apa itu?" tanya Kirani, suaranya waspada.

Raka tidak menjawab. Ia menutup map dengan pelan.

"Bukan kasus ringan," katanya akhirnya.

Di luar, lampu neon basement berdengung — stabil, seperti tidak akan pernah mati.

Tapi di dalam ruang sisa, untuk pertama kalinya pagi itu, tidak ada yang bicara.

Divisi Audit Gaib — Gunamaya Studios