Anak di Cermin Apartemen
Apartemen itu berdiri di antara gedung-gedung lain di Menteng — tidak terlalu tinggi, tidak terlalu baru, tapi cukup tua untuk punya sejarah yang tidak tercatat di brosur penjualan. Temboknya krem, liftnya berlapis kaca, dan lobby-nya berbau pengharum ruangan yang mencoba terlalu keras terlihat mahal.
Raka, Jalu, Kirani, dan Adi tiba pukul 09.00 — tiga puluh menit setelah janji, karena macet dan karena basement parkir gedung ini tidak masuk dalam sistem navigasi ponsel mereka. Jalu mengemudi — sebuah mobil dinas yang lebih mirip taksi bandara daripada kendaraan operasional — dan selama perjalanan ia bercerita tentang teknik memarkir di SCBD tanpa membayar yang terbukti tidak benar ketika petugas parkir mengetuk kaca mereka di lampu merah.
Pemilik apartemen — seorang pria berusia akhir empat puluhan dengan jas tanpa dasi dan ekspresi orang yang terbiasa mendelegasikan masalah — menyambut mereka di lantai tujuh.
"Unit 7C," katanya, tanpa basa-basi. "Dua penyewa terakhir keluar dalam waktu tiga bulan. Alasan mereka: penampakan. Saya pikir mereka hanya mencari alasan untuk memutus kontrak sewa, sampai satpam malam melihat lampu kamar mandi menyala sendiri minggu lalu."
"Kami perlu akses penuh ke unit," kata Jalu, menggunakan nada yang ia tiru dari Prof. Ratih — tidak sepenuhnya meyakinkan, tapi cukup resmi.
Pemilik mengangguk dan menyerahkan kartu akses. "Saya akan di lantai dasar. Telepon kalau ada yang perlu ditandatangani."
Begitu pemilik pergi, Jalu mengendur. "Oke, tim. Lo —" ia menunjuk Kirani — "cek perimeter. Lo —" Adi — "catat semuanya. Gw —" ia menepuk dadanya — "jaga fisik. Dan lo —" Raka — "baca."
Raka mengangguk. Tangannya sudah di saku — tidak karena dingin, tapi karena ia sudah mulai merasakan getaran samar di ujung jarinya sejak mereka masuk ke lantai tujuh. Seperti seseorang menyentuh ringan sarafnya dari jarak jauh.
Pintu 7C terbuka tanpa perlawanan.
Unit itu kosong — tidak ada perabot, tidak ada tirai, tidak ada tanda bahwa manusia pernah tinggal di sini. Hanya lantai kayu yang mulai mengelupas di sudut, dinding putih yang menguning perlahan, dan cahaya pagi yang masuk melalui jendela besar di ruang tamu.
Tapi di ujung lorong, pintu kamar mandi setengah terbuka.
Dan dari celah itu, Raka mencium sesuatu.
Gula. Bukan gula terbakar seperti di lorong audit kemarin — lebih ringan, lebih manis, seperti gula merah yang baru saja meleleh. Tapi aroma itu tidak cocok dengan ruangan dingin tanpa jendela ini.
Ia berjalan ke kamar mandi, dengan Jalu di belakangnya sambil memegang sesuatu yang mirip tongkat pemadam api — alat penyegel portabel, kata Jalu sebelumnya, "tapi jangan harap berfungsi kalau jinnya kelas atas."
Raka mendorong pintu.
Cermin wastafel — ukuran biasa, bingkai putih — menggantung di dinding tanpa retak, tanpa noda.
Tapi dari dalam, seorang anak perempuan menatapnya.
Usia sekitar tujuh atau delapan tahun. Rambut dikuncir dua. Baju tidur putih — yang tadinya putih, sekarang keabu-abuan, seperti sudah lama tidak dicuci. Dan jarinya — jari telunjuk kanan — bergerak pelan di permukaan cermin, menulis kata-kata terbalik dengan apa yang tampak seperti air atau keringat atau sesuatu yang lebih kental.
Di cermin, Raka membaca:
MAMA BELUM BAYAR AKU.
Jalu berhenti di ambang pintu. "Kamu liat sesuatu?"
Raka tidak menjawab. Karena gadis kecil di cermin itu tidak menakutkan. Matanya tidak merah. Tidak ada senyum lebar. Ia hanya berdiri, menulis, dan menunggu.
Seperti seseorang yang menunggu lama.
Di luar, Naira tiba tanpa diundang.
Raka mendengar suara langkah di lorong — ringan, presisi, berbeda dari Kirani yang menjaga pintu masuk — dan ketika ia menoleh, Naira berdiri di ambang lorong, jas lapangan hitam, tidak ada senyum, tidak ada penjelasan.
"Observer," katanya, seperti itu adalah satu kata yang cukup.
Jalu mengangkat alis. "Kelas akses A1 jadi observer untuk kasus basement?"
Naira tidak menjawab. Matanya langsung ke cermin.
"Bisakah kamu membacanya?" tanya Raka.
Kelegaan bercampur frustrasi ketika Naira menjawab. "Tidak. Aku bukan auditor. Aku pemburu. Aku lihat threat level, bukan klausul."
"Kalau kamu lihat threat level — berapa?"
Naira menatap cermin lama. "Level 1. Mungkin 2. Tapi —" ia menjeda — "ada yang aneh. Matanya tidak cocok."
Raka menatap anak itu. Sekarang ia perhatikan: matanya tidak seperti hantu yang marah atau kesurupan. Matanya seperti anak kecil yang bingung. Yang tidak mengerti kenapa pintu rumahnya tidak pernah terbuka.
"Kita seal aja," kata Naira. Suaranya tidak keras, tapi tegas. "Anak-anak seperti ini biasanya residu kontrak yang salah. Cermin dihancurkan, seal ditanam, kasus ditutup."
"Tidak."
Naira menatapnya. "Tidak?"
"Dia bukan penampakan." Raka melangkah maju — lebih dekat ke cermin. "Dia nunggu bayaran. Tapi bayarannya bukan uang."
"Bayarannya apa?" tanya Jalu dari belakang.
Raka memejamkan mata — dan membuka Mata Ledger.
Ledger muncul dalam warna abu-abu — tidak seterang di lorong audit kemarin. Tapi cukup.
Di atas kepala anak itu, fragmen kalimat:
AGUNAN: KENANGAN.
KREDITUR: JIN PROPERTI — KLAUSUL DIAM.
DEBITUR: ELIDA — PEMILIK KONTRAK ASLI.
Mata Raka mulai perih. Tapi ia terus membaca. Huruf-huruf itu mengalir di bawah — sejarah kontrak yang dimulai tujuh tahun lalu, ketika seorang wanita muda menandatangani perjanjian untuk apartemen ini. Bukan dengan uang. Dengan kenangan tentang anak pertamanya.
Ia menandatangani bahwa ia akan melupakan.
Setiap bulan kontrak diperpanjang secara otomatis selama Elida tidak mengakui keberadaan anak itu — tidak menyebut namanya, tidak mengingat wajahnya di depan cermin. Apa yang tadinya pengorbanan sukarela perlahan menjadi hutang yang tidak bisa dibatalkan — karena setiap hari Elida tidak mengaku, kontrak menguat.
Anak itu tidak mati. Ia hanya dilupakan. Dan kenangannya — ingatan tentang ibunya sendiri — menjadi agunan yang terus membayar sewa apartemen.
"Itu yang tertulis," kata Raka, suaranya serak. "Anak ini dikunci sebagai alat pembayaran apartemen ini. Setiap bulan ibunya lupa, kontraknya diperpanjang."
Ruangan sunyi. Lampu kamar mandi berkedip satu kali.
Kenangan. Bukan darah, bukan nyawa. Tapi dilupakan oleh ibu sendiri — itu agunannya.
"Kita seal," ulang Naira. Lebih pelan kali ini, tapi tidak kurang tegas. "Itu prosedur. Kalau dibiarkan, roh ini akan menguat dan apartemen sebenarnya yang akan dirasuki."
"Dia bukan roh jahat," kata Raka, menatap Naira langsung. "Dia anak yang ibunya lupa bayar — bukan dengan uang, tapi dengan pengakuan. Kalau kita seal cermin tanpa baca kontrak penuh, kita mengunci dia di sini selamanya."
Naira tidak menjawab.
Tapi matanya — untuk pertama kalinya, Raka melihat sesuatu selain ketenangan di wajah itu. Keraguan. Atau mungkin ingatan.
Cermin retak.
Tidak keras. Tidak seperti ledakan. Hanya rambutan tipis di sudut kiri bawah, merambat perlahan, seperti es yang retak kena suhu hangat.
Dan anak di cermin itu — ia tidak bergerak. Tapi tulisannya berubah.
MAMA... AKU DINGIN... KAPAN PULANG?
Raka mendengar sesuatu di belakangnya — Kirani, dari lorong: "Pintu lift terbuka sendiri. Tidak ada orang."
Suhu turun. Tidak drastis — cukup untuk membuat bulu kuduk Raka berdiri.
"Naira," kata Jalu, suaranya rendah — serius, tanpa bercanda untuk pertama kalinya dalam percakapan ini, "kalau cermin ini retak total, apa yang terjadi?"
Naira tidak menjawab. Tapi Raka membaca jawabannya dari bagaimana ia menarik napas panjang sebelum menjawab.
"Roh itu akan bebas untuk sementara — dan apartemen ini akan mulai mengingat."
"Mengingat apa?" tanya Raka.
"Mengingat apa yang terjadi di sini. Setiap kenangan yang hilang selama tujuh tahun — akan kembali." Naira menatap retakan yang merambat. "Tapi tidak semuanya bisa diterima oleh manusia."
Raka mendongak. Dan untuk pertama kalinya, ia menyadari bahwa lampu neon di lorong tidak menyala. Dan langit di luar jendela — yang tadinya pagi — mulai gelap.
Seperti apartemen ini bernapas. Seperti ia sadar ada orang yang bisa melihat kontraknya.
Malam — atau siang yang menjadi gelap — turun lebih cepat dari yang seharusnya.
Raka duduk di lantai kamar mandi, menatap cermin. Retakan sekarang selebar jari kelingking. Anak di dalam tidak menulis lagi. Ia duduk di lantai cermin — posisi yang sama dengan Raka di sisi sebaliknya. Seperti mereka dipisahkan oleh satu lapisan kaca tipis yang bisa pecah kapan saja.
"Kalau kamu bilang dia butuh pengakuan," kata Naira dari ambang pintu — suaranya lebih pelan dari sebelumnya, "siapa yang harus mengaku?"
"Pemilik kontrak asli. Elida." Raka menekan pelipisnya. Mata Ledger mulai memberat. "Tapi dia bukan pemilik apartemen sekarang. Kontraknya dijual — atau dipindahkan — saat properti ini berganti tangan."
"Jadi kontrak ini sudah diwariskan ke pemilik baru?" tanya Kirani dari lorong.
"Bukan." Raka menggeleng. "Ini lebih buruk. Kontraknya otomatis. Selama unit ini berdiri dan tidak ada yang mengakui anak itu, kontrak terus berjalan. Pemilik baru tidak tahu — mereka pikir ini hanya apartemen dengan masa lalu buruk."
Raka menatap anak di cermin. Gadis kecil itu menatap balik.
"Masalahnya," kata Raka, "adalah anak ini butuh disebut namanya."
"Kamu tahu namanya?"
Ledger tidak menunjukkan nama anak itu. Hanya debitur: Elida. Hanya agunan: kenangan. Tapi nama anak — seolah sengaja dihapus dari catatan.
"Tidak," kata Raka jujur.
Naira menghela napas. "Kalau kita tidak bisa memanggil namanya —"
"Kita cari." Raka berdiri. "Pemilik lama. Catatan apartemen. Notaris. Siapa pun yang tahu unit ini sebelum dibeli pemilik sekarang."
Jalu melirik jam. "Pukul sepuluh pagi. Seharusnya notaris masih buka."
Kirani mengangguk. "Saya cek arsip unit dulu."
Dan untuk pertama kalinya, tim Ruang Sisa bergerak — bukan sebagai individu buangan, tapi sebagai tim yang punya satu tujuan.
Tapi sebelum Raka mengikuti yang lain, Naira meraih lengannya — ringan, hampir tidak ada tekanan.
"Satu hal."
Raka berhenti.
"Kontrak seperti ini — yang menggunakan ingatan sebagai agunan — biasanya tidak bisa diputuskan hanya dengan mengakui nama anak."
"Apa lagi yang dibutuhkan?"
Naira tidak menjawab. Tapi matanya — untuk sekian detik — tidak fokus pada Raka. Ia melihat ke cermin. Atau lebih tepatnya, ke bayangannya sendiri di cermin.
Yang bergerak setengah detik lebih lambat dari tubuhnya.
"Aku tidak tahu pasti," katanya akhirnya, nadanya kembali dingin. "Tapi kalau kamu membaca klausul penuhnya, kamu mungkin akan menemukan sesuatu."
Ia berbalik dan berjalan keluar — meninggalkan Raka sendirian di depan cermin yang retak.
Raka menatap bayangannya.
Di cermin, bayangannya diam — tidak bergerak mengikuti.
Tapi itu bukan yang membuat jantungnya berhenti sejenak.
Di pergelangan tangan bayangannya — rantai merah. Tipis. Samar. Seperti yang ia lihat di pergelangan Naira beberapa detik sebelumnya.
Raka menunduk ke pergelangannya sendiri. Tidak ada rantai.
Tapi di cermin, rantai itu jelas — melingkar, rapat, seperti sudah ada sejak lama.
Ia menoleh ke arah pintu — Naira sudah tidak terlihat.
Tapi bayangannya di cermin belum pergi.