Divisi Audit Gaib

Rahasia Naira

Bab 8·1392 kata·7 menit baca

"Aku tahu kamu lihat sesuatu."

Suara Naira hampir tidak terdengar di koridor apartemen yang gelap. Lampu darurat di langit-langit menyala merah — tidak cukup untuk menerangi wajah, cukup untuk membuat bayangan mereka bergerak sendiri di dinding.

Raka baru saja keluar dari kamar mandi ketika Naira mendorongnya ke dinding — bukan dengan kasar, tapi dengan presisi. Satu tangan di bahunya, badan menghalangi jalan. Cukup untuk membuatnya berhenti.

"Di cermin," lanjut Naira. "Kamu lihat sesuatu. Bukan anak itu. Lainnya."

Raka diam.

Ia bisa berbohong. Tapi Naira bukan orang yang mudah dibohongi — dan Raka belum cukup pintar untuk mencoba.

"Aku lihat rantai," katanya akhirnya. "Di pergelanganmu. Di cermin."

Naira tidak bergerak. Tidak mengalihkan pandangan.

"Dan?"

"Dan bayanganmu bergerak tidak sinkron dengan tubuhmu."

Untuk beberapa detik, tidak ada yang bergerak di koridor itu. Hanya lampu darurat yang berkedip pelan, dan suara lift di kejauhan yang terbuka lalu tertutup.

"Apa yang akan kamu lakukan dengan informasi itu?" tanya Naira.

Nadanya dingin — seperti kemarin saat ia memberi kesaksian di ruang evaluasi. Tapi Raka mulai bisa membaca perbedaan halus: nada dingin Naira untuk urusan resmi berbeda dengan nada dinginnya saat ia terdesak. Yang ini ada tepinya. Tajam.

"Tidak tahu," jawab Raka jujur.

"Jawaban yang menarik." Naira mundur setengah langkah. "Kebanyakan orang akan bilang 'tidak apa-apa' atau mengancam balik. Kamu bilang 'tidak tahu.'"

"Karena aku benar-benar tidak tahu."

Naira menatapnya lama. Mungkin sepuluh detik. Mungkin lima belas. Cukup untuk membuat Raka sadar bahwa di unit ini, sepuluh detik adalah waktu yang sangat panjang.

"Aku akan memberitahu satu hal," kata Naira akhirnya, suaranya kembali ke nada resmi. "Rantai yang kamu lihat — itu urusan keluarga Adhitama. Bukan urusanmu. Jangan menyentuhnya. Jangan membacanya. Jangan menyebutnya."

"Kedengarannya seperti ancaman."

"Ini saran." Naira berbalik. "Ancaman akan datang kemudian, kalau kamu tidak mendengarkan."

Ia berjalan ke ujung koridor, menuju ruang tamu di mana Jalu dan Kirani sedang menunggu. Langkahnya sama — presisi, tenang. Tapi Raka melihat sesuatu yang tidak ia lihat sebelumnya: bahunya sedikit tegang. Mungkin karena marah. Mungkin karena takut.

Raka mengikuti.

Di ruang tamu, Adi — yang selama ini diam-diam memeriksa dokumen pemilik apartemen di ponselnya — mendongak.

"Notaris yang menangani akta unit ini ada di nama Hendrawan & Rekan," katanya, tanpa menunggu ditanya. "Tapi pemilik awal — Elida — sudah tidak ada di alamat KTP-nya sejak lima tahun lalu."

"Berarti kita tidak bisa minta data dari notaris?" tanya Jalu.

"Bisa. Tapi butuh surat perintah resmi. Atau —" Adi menjeda — "kita bisa cek arsip online notaris. Kadang mereka taruh data kepemilikan lama di portal publik karena aturan pertanahan."

Raka menatap Adi. "Kamu bisa akses itu?"

Adi mengangkat bahu. "Kalau kata sandinya 'notaris123', iya."

Ternyata memang 'notaris123'.

Dan dari arsip itu, mereka menemukan nama anak yang hilang dari ledger.

Elsa. Elsa Pramesti. Lahir 2018. Ibu: Elida Pramesti.

Anak itu ada — namanya tercatat di akta kelahiran yang diunggah sebagai lampiran akta jual-beli apartemen. Selembar dokumen yang tidak akan pernah ditemukan oleh penyegel yang hanya membaca laporan penampakan.

"Elsa," kata Raka, membaca nama itu keras-keras.

Di kamar mandi, cermin bergetar.

Tim kembali ke unit 7C ketika matahari mulai bergeser ke barat — sekitar pukul dua sore. Koridor lantai tujuh sekarang lebih dingin dari sebelumnya, dan lampu emergency di beberapa titik mati tanpa alasan.

Raka masuk ke kamar mandi sendirian.

Jalu berjaga di pintu. Kirani di lorong. Adi di ruang tamu, siap mencatat.

Dan Naira — di ambang pintu kamar mandi, tidak masuk, tidak pergi.

Raka berlutut di depan cermin.

Retakan sekarang selebar dua jari — tidak lagi rambutan tipis. Dan dari balik kaca, anak itu tidak menulis lagi. Ia hanya duduk, lutut ditarik ke dada, menatap Raka dengan mata yang lelah.

Raka menarik napas — dan berbicara.

"Halo, Elsa."

Nama itu bergema di ruang kecil kamar mandi.

Tidak ada yang terjadi selama tiga detik pertama.

Lalu cermin itu — retak di lima tempat — mulai mengeluarkan cahaya. Bukan cahaya terang. Lebih seperti kehangatan, seperti lampu ruang tamu yang dinyalakan setelah rumah gelap seharian. Perlahan, suhu di kamar mandi naik.

Raka tetap di posisinya.

"Ibumu tidak sengaja melupakanmu," katanya, suara pelan. "Bukan karena dia tidak mau mengingat. Tapi karena kontrak ini — kontrak ini mengambil ingatannya pelan-pelan, hari demi hari, sampai lupa bahwa ia punya anak. Itu bukan salahmu."

Gadis kecil di cermin — Elsa — menatapnya.

Mulutnya bergerak. Tidak ada suara yang keluar. Tapi Raka mengerti.

Kapan mama pulang?

"Segera," kata Raka. "Tapi kamu harus lepas dari cermin ini dulu."

Anak itu menggeleng pelan. Takut.

"Aku tidak akan seal," kata Raka. "Aku hanya akan buka pintunya. Kamu bisa pergi kalau mau."

Dari ambang pintu, Naira menarik napas — seperti ingin protes. Tapi ia tidak bicara.

Raka menempelkan telapak tangannya ke cermin.

Dan membaca.

Ledger kali ini lebih jelas — karena ia sudah tahu apa yang dicari.

Klausul kontrak apartemen 7C: AGUNAN: KENANGAN ANAK SULUNG. KREDITUR BERHAK ATAS SELURUH INGATAN TENTANG ANAK TERSEBUT SELAMA KONTRAK BERLAKU. PENGGANTIAN AGUNAN DAPAT DILAKUKAN DENGAN PENGALIHAN KONTRAK ATAU PENGAKUAN PUBLIK.

Itu celahnya.

Pengakuan publik. Bukan pembayaran. Bukan darah. Bukan seal. Cuma satu hal: seseorang harus mengakui bahwa Elsa ada — bahwa ia adalah anak yang nyata, bukan kenangan yang hilang.

Tapi yang mengaku bukan Raka. Bukan Jalu. Bukan Naira.

Yang harus mengaku adalah pemilik kontrak.

Dan pemilik kontrak — Elida — sudah tidak ada.

Tapi anak di cermin itu tidak butuh ibunya secara fisik. Ia butuh namanya disebut. Butuh seseorang mengakui keberadaannya.

Raka menekan telapak tangannya lebih keras ke cermin.

"Elsa Pramesti, anak dari Elida Pramesti," katanya, suara jelas. "Kamu bukan agunan. Kamu bukan utang. Kamu adalah orang yang nyata. Dan kamu berhak pulang."

Cermin retak penuh.

Dan hancur.

Tapi tidak ada yang meledak. Tidak ada pecahan kaca yang beterbangan.

Cermin itu — retak di puluhan tempat — hanya luruh perlahan, seperti salju yang jatuh dari ketinggian yang tidak kelihatan. Potongan-potongan kecil menguap sebelum menyentuh lantai, meninggalkan aroma gula yang samar.

Di wastafel, sebutir kristal — kecil, seukuran kuku jari — bersinar redup.

Raka meraihnya.

Saat jarinya menyentuh permukaan kristal, ia melihat sesuatu. Bukan dengan mata. Dengan ingatan.

Gadis kecil — Elsa — duduk di lantai apartemen yang masih baru. Koper di samping. Mainan beruang di pangkuan. Dan suara dari pintu — seorang wanita, suara yang akrab: "Mama janji, bentar aja. Mama urus administrasi. Nanti mama jemput."

Janji yang tidak ditepati. Tapi di akhir memori — sebelum gelap — logo kecil di sudut koper:

ADHITAMA GROUP — SOLUSI PROPERTI.

Elsa tidak tinggal di apartemen ini karena ibunya membeli unit itu. Ibunya mengontrak dari perusahaan properti — yang terdaftar di bawah Adhitama Group.

Raka membuka matanya.

Naira masih di ambang pintu — tidak melihat ke arahnya. Ia melihat ke lantai, di mana pecahan kaca telah menguap.

Raka diam.

Ia tidak tahu apakah Naira tahu bahwa Adhitama Group ada di balik kontrak ini. Tapi ia tahu satu hal: Naira memilih diam saat ia menyegel cermin. Seolah ada sesuatu di balik seal itu yang tidak ingin ia temukan.

Raka menggenggam kristal di sakunya. Tidak mengatakan apa-apa.

Di luar, matahari sore mulai memanaskan aspal Jakarta. Tim Ruang Sisa berdiri di trotoar — diam, kecuali Jalu yang mengulurkan botol air ke Raka.

"Apartemen ini sekarang aman?" tanya Kirani.

Raka menggeleng. "Anaknya sudah pergi. Tapi kontrak aslinya — antara Elida dan perusahaan properti — masih berjalan. Kita baru memutuskan efeknya, bukan penyebabnya."

"Berarti —"

"Berarti kasus ini belum selesai." Raka menatap gedung apartemen yang mulai diterangi lampu senja. "Tapi untuk saat ini, cukup."

Jalu menepuk pundaknya. "Tim Ruang Sisa berhasil."

"Iya." Raka tersenyum tipis. "Belum ada yang mati."

Di belakang mereka — di pintu masuk apartemen — Naira berdiri sendiri, ponsel di tangan, layar menyala. Ia mengetik sesuatu — pesan singkat — lalu memasukkan ponsel ke saku.

Ketika berbalik, matanya bertemu dengan Raka untuk sekejap.

Tidak ada ancaman. Tidak ada peringatan.

Hanya pengakuan diam-diam bahwa sesuatu telah terjadi di antara mereka — sesuatu yang tidak bisa dicatat dalam laporan.

Raka merasakan kristal di sakunya hangat.

Seperti anak itu masih ada. Seperti ia meninggalkan sesuatu yang penting.

Dan di atas kristal — di balik ingatan yang baru ia lihat — logo Adhitama Group masih terbayang di kepalanya.

Kontrak ini juga punya alamat yang sama.

Lantai tujuh belas.

Raka tidak tahu persis bagaimana hubungannya — antara kontrak apartemen Menteng, Adhitama Group, dan Naira — tapi ia tahu bahwa rantai yang ia lihat di cermin pagi tadi bukan satu-satunya rantai di gedung ini.

Ada rantai yang lebih panjang.

Dan mungkin, ujungnya ada di lantai minus tiga.

Divisi Audit Gaib — Gunamaya Studios